Matematika
berasal dari bahasa Yunani Kuno μάθημα (máthēma),
yang artinya pengkajian, ilmu, pembelajaran, yang ruang lingkupnya menyempit.
Dalam sumber lain disebutkan bahwa matematika adalah studi besaran, struktur,
ruang, dan perubahan.Dan arti teknisnya menjadi
“ pengkajian matematika”. Kata sifat dari matematika ialah μαθηματικός (mathēmatikós) yang artinya berkaitan dengan pengkajian
atau tekun belajar, yang lebih jauhnya berarti matematis.
Para
matematikawan mencari berbagai pola merumuskan konjektur baru, dan membangun
kebenaran melalui metoda deduksi yang kaku dari aksioma – aksioma dan definisi
– definisi yang bersesuaian.
Terdapat
perselisihan tentang apakah objek – objek matematika seperti ‘bilangan’ dan
‘titik’ hadir secara alami atau hanyalah buatan manusia ?
Evolusi
matematika dapat dipandang sebagai deretan abstraksi yang selalu bertambah
banyak atau perkataan lainnya yang merupakan perluasan pokok masalah. Abstraksi
bermula mengenai bilangan. Misalnya pernyataan dua pensil dan dua pena memiliki
jumlah yang sama.
Melalui penggunaan penalaran logika dan abstraksi, matematika berkembang
dari pencacahan, perhitungan, pengukuran, dan pengkajian
sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika. Matematika
praktis telah menjadi kegiatan manusia sejak adanya rekaman tertulis. Argumentasi kaku pertama muncul di
dalam Matematika Yunani, terutama di dalam karya Euklides, Elemen. Matematika selalu
berkembang, misalnya di Cina pada tahun 300 SM, diIndia pada tahun 100 M, dan di Arab pada tahun 800 M, hingga
zaman Renaisans, ketika temuan baru
matematika berinteraksi dengan penemuan
ilmiah baru
yang mengarah pada peningkatan yang cepat di dalam laju penemuan matematika
yang berlanjut hingga kini.
Langkah selanjutnya memerlukan penulisan atau sistem lain untuk mencatatkan bilangan, semisal tali atau dawai bersimpul
yang disebut quipu dipakai oleh
bangsa Inca untuk menyimpan data
numerik. Sistem bilangan ada banyak dan bermacam-macam, bilangan tertulis
yang pertama diketahui ada di dalam naskah warisan Mesir Kuno di Kerajaan Tengah
Mesir, Lembaran
Matematika Rhind
Penggunaan terkuno matematika adalah di dalam perdagangan, pengukuran tanah, pelukisan, dan pola-pola penenunan dan pencatatan waktu dan tidak pernah berkembang luas hingga tahun
3000 SM ke muka ketika orang Babilonia dan Mesir Kuno mulai menggunakan aritmetika, aljabar, dan geometri untuk penghitungan pajak dan urusan keuangan lainnya, bangunan dan
konstruksi, dan astronomi. Pengkajian matematika yang sistematis di dalam
kebenarannya sendiri dimulai pada zaman Yunani Kuno antara tahun 600 dan 300
SM.
Matematika sejak saat itu segera berkembang luas, dan
terdapat interaksi bermanfaat antara matematika dan sains, menguntungkan kedua belah pihak. Penemuan-penemuan
matematika dibuat sepanjang sejarah dan berlanjut hingga kini. Menurut Mikhail
B. Sevryuk, pada Januari 2006 terbitan Bulletin of the
American Mathematical Society, "Banyaknya makalah dan buku yang dilibatkan di dalam basis
data Mathematical Reviews sejak 1940 (tahun pertama beroperasinya MR) kini melebihi
1,9 juta, dan melebihi 75 ribu artikel ditambahkan ke dalam basis data itu tiap
tahun. Sebagian besar karya di samudera ini berisi teorema matematika baru beserta bukti-buktinya.
Kini, matematika digunakan di seluruh dunia sebagai alat
penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik, kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Matematika terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke
bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika
baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang
sepenuhnya baru, seperti statistika dan teori permainan. Para matematikawan juga bergulat di dalam matematika murni, atau matematika untuk perkembangan matematika itu sendiri, tanpa adanya penerapan
di dalam pikiran, meskipun penerapan praktis yang menjadi latar munculnya
matematika murni ternyata seringkali ditemukan terkemudian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar