1.
Constructivism
Constructivism
adalah pandangan teoritis yang mengatakan bahwa pelajar lebih mengarah pada
mengkonstruk daripada hanya sekedar menyerap pengetahuan dari pengalamannya
(Ormrod, 2006).
Menurut Honebein (1996
dalam http://www.stemnet.nf.ca/~elmurphy/) ada tujuh sasaran dari
pandangan constructivism antara lain:
·
Memberikan pengalaman disertai proses
pembentukan pengetahuan.
·
Menghasilkan pengalaman dan membentuk
apresiasi terhadap beragam pandangan
·
Memasukkan proses pembelajaran ke dalam
konteks sehari-hari
·
Mendorong murid untuk mengungkapkan
pendapat/pikirannya selama proses pembelajaran
·
Memasukkan proses pembelajaran saat
bersosialisasi
·
Mendorong siswa untuk melihat sudut
pandang yang berbeda
Salah
satu aplikasi pandangan contructivism dalam dunia pendidikan adalah
penggunaan metode pembelajaran Collaborative Learning (CL) dan Problem
Based Learning (PBL) untuk mengembangkan ketrampilan belajar siswa.
Jadi Pendekatan konstruktivis akan membuat siswa mudah
memahami suatu konsep apabila dalam proses belajar menekankan pada murid agar
dapat mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain.
Dengan cara belajar seperti itu dapat dikatakan proses belajar bermakna, karena
tidak saja terkait dengan ketercapaian materi belajar, namun siswa juga belajar
hidup sosial ketika melakukan diskusi kelompok. Guru menggunakan desain
pembelajaran yang terkait dengan kompetensi dasar yaitu menganalisis hubungan
antara perkembangan paham-paham baru dan transformasi sosial dengan kesadaran
dan pergerakan kebangsaan.
Ada
2 macam pendekatan konstruktivis yang dapat dilakukan oleh guru dalam proses
pembelajaran di kelas, yaitu: (1). Pendekatan kontruktivis sosial, (2).
Pendekatan konstruktivis kognitif
1.1 Pendekatan kontruktivis sosial,
Secara
umum pendekatan konstruktivis sosial menekankan pada konteks sosial dari
pembelajaran dan bahwa pengetahuan itu dibangun dan dikonstruksi secara bersama
(mutual). (Bearison dan Dorval 2002).
Pendekatan konstruktivis sosial mempunyai beberapa
konsep umum seperti:
·
Pelajar
aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
·
Dalam
konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
·
Pentingnya
membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling
mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
·
Unsur
terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara
aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah
ada.
·
Ketidakseimbangan
merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila
seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan
pengetahuan ilmiah.
f. Bahan
pengajaran yang disediakan perlu mempunyai keterkaitan dengan pengalaman
pelajar untuk menarik minat pelajar.
1.2 Pendekatan konstruktivism
kognitif
Pendekatan
konstruktivism kognitif merupakan pendekatan pembelajaran yang menggunakan
konsep dalam belajar yaitu berupa kategori-kategori yang mengelompokkan objek,
kejadian dan karakteristik berdasarkan properti umum. Konsep merupakan elemen
dari kognisi yang membantu menyederhanakan dan meringkas informasi.
Konstruktivisme kognitif, sebagai berasal dari karya
Piaget (1977) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses akomodasi, asimilasi,
dan equilibrium (Piaget, 1977).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar